Pengertian Dan Asal Usul Bhairawa Atau Bhairawi

HINDUALUKTA-- Jika dilihat dari Maknanya kata Bhairawa berarti Menakutkan atau Mengerikan. Kata Bhairawa merupakan salah satu perwujudan Dewa Siwa dalam aspek peleburan dengan perwujudan yang sangat menyeramkan. Bhairawa juga dikenal dalam berbagai bahasa dengan berbagai sebutan, seperti Vairavar (Tamil), Bhairava (Sanskrit), Bheruji (Rajasthan), dan bila semua kata tersebut dihubungkan aspek Dewa Siwa, maka makna kata Bhairawa berarti Peleburan, (Majalahhinduraditya, I Wayan Miasa, 2012).

Dikalanngan masyarakat, Bhairawa sering dilukiskan dengan perwujudan fisik dengan atribut-atribut yang menyeramkan seperti memakai ular sebagai anting-anting, kalung, gelang tangan, gelang kaki, serta memakai tali suci yang disebut Yajnopavita. 

Bhairawa juag biasa memakai kulit harimau sebagai alas tempat duduknya, sabuk dari untaian tengkorak manusia dan sebagai persembahan yang paling cocok untuk Bhairawa adalah Cicing Selem. Dan dalam beberapa hal, Bhairawa sering dilukiskan dengan perwujudan makhluk yang memegang beberapa kepala manusia dan ditunggui oleh anjing di sampingnya.
Munculnya Bhairawa
Telah dijelakan diatas bahwa Bhairawa merupakan perwujudan yang paling menyeramkan dari dewa Siwa sebagai Dewa Penghancur atau Pelebur. Mengenai kemunculan tentang Bhairawa ini ada beberapa cerita yang berkembang dilingkungan masyarakat pemeluk Hindu seperti di masyarakat Hindu di daerah Rajasthan, Tamil Nadu dan Nepal.

Menurut mereka, kemunculan Bhairawa berkaitan erat dengan penghukuman Dewa Brahma. Pada jaman dahulu bercakap-cakaplah Dewa Wisnu dengan Dewa Brahma. Dewa Wisnu bertanya, siapakan Sang Pencipta alam semesta ini. Dengan angkuhnya Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk menyembah Dewa Brahma, karena Dewa Brahmalah sang pencipta tertinggi di alam semesta ini. 

Hal inilah yang membuat Dewa Siwa marah sekali dan menghukum Dewa Brahma dengan memenggal salah satu dari lima kepala Dewa Brahma. Sehingga kepala Dewa Brahma masih tersisa empat. Akibat dari hal itu, Dewa Siwa dianggap bersalah karena memenggal kepala salah satu kepala Dewa Brahma dan Dewa Siwa pun dikutuk menjadi Gegendong dengan membawa mangkok dari tengkorak Dewa Brahma dan Bhairawa ini disebut Kapalin atau gegendong dengan mangkok dari tengkorak. 

Sejak itulah sang Bhairawa terus meraung dan menari, dengan bernampilan seperti orang gila dengan wajah hitam. Dia juga terus mengganggu upacara para Sadhu, juga mengambil istri-istri para Sadhu tersebut sehingga Lingga sang Bhairawa dikutuk dan Lingga ini jatuh dan berubah menjadi pilar api yang membara. Sang Kapalin terus meminta-minta dan menari.

Sisa-Sisa Upacara Bhairawa Zaman Kini di Bali

Pada suatu saat tibalah Dia di kediaman Dewa Wisnu, dimana kehadiran sang Gegendong dihalang-halang sang penjaga pintu Dewa Wisnu, yang bernama Visvaksena. Karena menghalangi sang Bhairawa, maka sang penjaga pintu disiksa dengan trisula sampai mati. 

Kemudian Dewa Wisnu menyambut sang Bhairawa dengan memberikan sang Bhairawa darah dari kepala Dewa Wisnu, sang pemelihara alam semesta. Dan hal tersebut membuat sang Bhairawa senang. Dia terus berjalan, menari serta membawa mayat Visvaksena dan mangkok yang penuh berisi darah dari Dewa Wisnu. 

Akhirnya sang Bhairawa dengan mangkok dari kepala Dewa Brahma ini mencapai kota suci yang disebut Varanasi atau Benares, dan segera setelah sampai di daerah tersebut sang Kapalin dibebaskan dari kutukan Dewa Brahma. Menurut cerita bahwa Bhairawa memiliki delapan perwujudan, seperti:

1.    Kala (hitam)
2.    Asitanga (berbibir hitam),
3.    Sanhara (penghancuran),
4.    Ruru (cicing borosan),
5.    Krodha (kemarahan),
6.    Kapala (tengkorak),
7.    Rudra (badai),
8.    Unmatta (kekejaman).
Lingga yang Bersinar (Jyotirlingga)
Telah diceritakan diatas bahwa Lingga sang Bhairawa dikutuk oleh para Sadhu, yang mana Lingga tersebut jatuh ke bumi yang berubah menjadi Lingga yang bersinar. Setelah Lingga sang Bhairawa dikutuk, ia memunculkan Lingga baru lagi dan sang sadhu mengutuknya lagi.

Bhairawa di Nusantara dan Perkembanganya

Menyadari bahwa Lingga yang dikutuk tersebut milik Dewa Siwa maka sang sadhu membujuk Dewa Siwa agar beliau tenang. Dewa Siwa menjawab sebagai berikut:
“Dunia ini tidak akan menemukan kedamaian sampai ditemukan sebuah tempat untuk lingga (phallus) beliau ditemukan. Tidak ada tempat yang bisa memegang phallus beliau kecuali Dewi Gunung atau Parwati. Jika sang Dewi mau memegangnya maka semuanya akan tenang.”

Untuk memenuhi keinginan Sang Bhairawa tersebut maka Dewa Brahma langsung menyuruh para sadhu untuk memerciki phallus itu dengan Tirta, membuat sebuah tempat berbentuk Vagina (yoni) dan disertai dengan lambang sang Dewi. Selain itu doa-doa dikumandangkan, persembahan dengan diiringi musik, juga mengucapkan “Engkaulah asal sumber alam semesta”. Tenangkanlah Dirimu dan jaga alam semesta ini!

Seiring waktu, Bhairawa berkembang sesuai dengan keadaan daerah masing-masing pengikut Bhairawa tersebut, misalnya Kapalika atau Bhairawa dengan mangkok dari tengkorak, yang pada awalnya diberi persembahan berupa  Cicing Selem kemudian di beberapa wilayah digambarkan sebagai Bhairawa yang bermandikan abu dari upacara pembakaran mayat, meminta persembahan dengan pengorbanan manusia, dan lain sebagainya.

Orang-orang menyembah Bhairawa Kapalika, gegendong dengan mangkok tengkorak karena para pemuja ini percaya bahwa dengan memuja sang Bhairawa ini mereka akan diberikan kekuatan magis yang luar biasa oleh Sang Bhairawa dan para pengikut Kapalika menganggap bahwa Bhairawa adalah Tuhan dari semua dewa (pencipta, pemelihara dan pelebur). Para pengikut Kapalika memang berpenampilan yang sangat seram, memiliki kekuatan magis dan senang mempersembahkan manusia sebagai korban suci. Prabodha Chandrodaya melukiskan pengikut Kapalikas sebagai berikut:

“Kalung dan perhiasannya dari tulang-tulang manusia, tinggal di abu pembakaran mayat, makan dengan mangkok dari tengkorak manusia, melihat dengan mata mendelik. Setelah berpuasa mereka minum cairan yang keluar dari kepala brahmana, mempersembahkan otak, paru-paru, daging serta darah segar yang mengalir dari kerongkongan untuk sang Bhairawa.”

Selain pemujaan terhadap Bhairawa, ada pula pemujaan terhadap Shakti dari bhairawa dan para pengikutnya memuja aspkek feminine dari Bhairawa yang terkenal dengan sebutan Bhairawi, sebagai Ibu Shakti dan di Bali sering disebut Dewi Durga.

0 Response to "Pengertian Dan Asal Usul Bhairawa Atau Bhairawi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel